Bisakah Prasangka Diubah Selamanya? Bedah Jurnal Psikologi Sosial Broockman & Kalla (2016)

Maskur Hidayat

January 9, 2026

4
Min Read

1. Identitas Jurnal dan Pendahuluan

Identitas Jurnal:

  • Judul: Durably reducing transphobia: A field experiment on door-to-door canvassing (Mengurangi transfobia secara tahan lama: Sebuah eksperimen lapangan melalui kampanye pintu ke pintu).
  • Penulis: David Broockman (Stanford University) & Joshua Kalla (University of California, Berkeley).
  • Nama Jurnal: Science (Jurnal Q1, Impact Factor sangat tinggi).
  • Tahun Publikasi: 2016.
  • Link Jurnal: https://doi.org/10.1126/science.aad9713

Latar Belakang Masalah:

Penelitian ini lahir dari sebuah krisis replikasi dan perdebatan teoritis dalam psikologi sosial. Sebelumnya, konsensus umum menyatakan bahwa prasangka—khususnya terhadap kelompok stigma tinggi seperti transgender—sangat sulit diubah, dan jika pun berubah, efeknya akan hilang dalam hitungan hari. Studi-studi sebelumnya sering kali gagal menunjukkan efek jangka panjang (durabilitas) dari intervensi pengurangan prasangka. Selain itu, terdapat research gap yang signifikan mengenai metode apa yang efektif di dunia nyata (di luar laboratorium) untuk mereduksi prasangka secara persisten.

Hipotesis Utama:

Peneliti mengajukan hipotesis bahwa intervensi tatap muka singkat (sekitar 10 menit) yang menggunakan metode “Deep Canvassing”—di mana pelaku kampanye mendorong pertukaran narasi pribadi dan pengambilan perspektif (active perspective-taking)—dapat mengurangi prasangka terhadap kaum transgender secara signifikan dan bertahan lama, dibandingkan dengan metode persuasi standar atau kelompok kontrol.

2. Ringkasan Metodologi

Desain Penelitian:

Penelitian ini menggunakan desain Randomized Controlled Trial (RCT) dalam seting lapangan (Field Experiment). Desain ini dianggap sebagai “standar emas” karena memiliki validitas ekologis yang tinggi (dilakukan di lingkungan alami partisipan, bukan di lab buatan).

Partisipan:

Studi ini melibatkan 5.661 pemilih terdaftar (voters) di Miami-Dade County, Florida, Amerika Serikat.

  • Demografi: Partisipan adalah warga biasa yang tinggal di rumah mereka, mencakup spektrum politik konservatif maupun liberal.
  • Rekrutmen: Partisipan tidak menyadari bahwa mereka sedang diteliti pada saat intervensi. Mereka didatangi langsung ke rumah oleh canvasser (petugas kampanye).

Prosedur (Step-by-step):

  1. Baseline Survey: Peneliti melakukan survei awal secara daring untuk mengetahui sikap dasar partisipan terhadap transgender sebelum intervensi.
  2. Randomisasi: Partisipan dibagi secara acak ke dalam dua kelompok:
    • Kelompok Perlakuan (Treatment): Mendapat kunjungan tentang hak-hak transgender.
    • Kelompok Kontrol Placebo: Mendapat kunjungan tentang pentingnya daur ulang (recycling). Ini dilakukan agar kedua kelompok sama-sama mengalami interaksi sosial, sehingga efek yang muncul murni karena “isi percakapan”, bukan sekadar karena disapa orang asing.
  3. Intervensi (Deep Canvassing):
    • Canvasser (baik trans maupun non-trans) mendatangi rumah.
    • Alih-alih menceramahi fakta, canvasser meminta pemilih menceritakan pengalaman pribadi saat mereka merasa dihakimi atau dikucilkan.
    • Canvasser kemudian membagikan cerita kerentanan mereka sendiri terkait isu transgender.
    • Terjadi dialog dua arah yang memicu analogic perspective-taking (mengaitkan pengalaman diri sendiri dengan pengalaman orang lain).
  4. Post-Test: Survei lanjutan dilakukan pada 3 hari, 3 minggu, 6 minggu, dan 3 bulan setelah kunjungan untuk mengukur persistensi perubahan sikap.

Instrumen/Alat Ukur:

Pengukuran dilakukan menggunakan “Feeling Thermometer” (skala 0-100 tentang seberapa hangat perasaan terhadap kelompok transgender) dan skala dukungan terhadap undang-undang non-diskriminasi (law protecting transgender people from discrimination).

3. Ringkasan Hasil Utama

Temuan Statistik:

Hasil penelitian menunjukkan dampak yang sangat signifikan. Hipotesis peneliti diterima sepenuhnya.

  • Intervensi deep canvassing meningkatkan dukungan terhadap hukum perlindungan transgender. Pada skala termometer perasaan, terjadi peningkatan kehangatan yang substansial dibandingkan kelompok kontrol (placebo daur ulang).
  • Besaran efek (effect size) yang dihasilkan lebih besar daripada pergeseran opini publik mengenai hak-hak gay yang terjadi secara alami di AS antara tahun 1998 hingga 2012. Artinya, percakapan 10 menit ini setara dengan perubahan sosial selama satu dekade.

Temuan Paling Signifikan & Mengejutkan:

Hal yang paling mengejutkan dunia akademis adalah durabilitas (ketahanan) efeknya.

Biasanya, efek intervensi psikologis luntur setelah beberapa hari akibat paparan media atau lingkungan sosial. Namun, dalam studi ini, penurunan prasangka bertahan hingga 3 bulan pasca-intervensi. Bahkan ketika partisipan dipaparkan pada iklan serangan politik yang anti-transgender (sebagai counter-attack), kelompok yang sudah diintervensi tetap mempertahankan sikap toleran mereka. Ini membuktikan bahwa deep canvassing menciptakan “imunisasi” kognitif terhadap prasangka, bukan sekadar kepatuhan sesaat.

4. Critical Review

Bagian ini akan membedah kekuatan, kelemahan, dan relevansi jurnal ini secara kritis.

Kelebihan (Strengths):

  1. Metodologi yang Sangat Rigor: Penggunaan placebo control group (kelompok daur ulang) adalah langkah jenius. Banyak penelitian psikologi sosial gagal karena hanya membandingkan “intervensi” vs “tidak ada apa-apa”. Dengan adanya kelompok placebo, Broockman & Kalla memastikan bahwa penurunan prasangka bukan disebabkan oleh demand characteristic (perasaan senang dikunjungi tamu), melainkan spesifik karena mekanisme perspective-taking.
  2. Validitas Ekologis Tinggi: Berbeda dengan studi prasangka yang sering menggunakan mahasiswa psikologi di laboratorium (yang seringkali sudah liberal), studi ini menggunakan sampel masyarakat umum di depan pintu rumah mereka sendiri. Ini membuat hasilnya sangat bisa digeneralisasi ke populasi nyata.
  3. Mekanisme “Active Processing”: Jurnal ini berhasil membuktikan bahwa kunci pengurangan prasangka adalah active processing. Partisipan tidak pasif mendengarkan (seperti menonton TV), tapi aktif menggali memori emosional mereka sendiri. Ini memberikan kontribusi teoritis besar bagi Intergroup Contact Theory.

Kekurangan & Limitasi (Weaknesses):

  1. Bias WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic): Meskipun sampelnya beragam secara politik, konteksnya tetap di Miami, AS, sebuah area urban di negara Barat yang individualis. Konsep “berbagi cerita pribadi dengan orang asing di depan pintu” mungkin bisa diterima di AS, namun bisa dianggap intrusif atau tidak sopan di budaya kolektivis atau budaya dengan uncertainty avoidance tinggi (seperti beberapa daerah di Asia).
  2. Efek Skalabilitas: Intervensi ini membutuhkan canvasser yang sangat terlatih dan memiliki kecerdasan emosional tinggi. Sulit untuk mereplikasi hasil ini jika dilakukan secara massal oleh relawan yang kurang terlatih. Kualitas interaksi sangat bergantung pada kemampuan canvasser membangun rapport dalam detik-detik pertama.
  3. Pengukuran Self-Report: Walaupun survei dilakukan berulang kali, instrumen utamanya tetaplah self-report (laporan diri). Peneliti tidak mengukur perilaku diskriminatif nyata (misalnya: apakah mereka mau mempekerjakan orang transgender atau duduk bersebelahan di bus). Ada kemungkinan Social Desirability Bias masih bermain, meskipun diminimalisir dengan survei daring.

Etika:

Secara etis, penelitian ini cukup bersih karena menggunakan debriefing dan persetujuan partisipan dalam survei. Namun, ada area abu-abu dalam hal manipulasi politik. Peneliti secara aktif mencoba mengubah pandangan politik seseorang di rumah mereka sendiri. Meskipun tujuannya mulia (mengurangi diskriminasi), teknik psikologis yang kuat ini jika jatuh ke tangan yang salah (misalnya untuk memicu radikalisasi) bisa berbahaya.

Relevansi Kontekstual di Indonesia:

Penerapan temuan ini di Indonesia—negara dengan nilai religius dan komunal yang kuat—memiliki tantangan tersendiri:

  • Konteks Isu: Isu LGBTQ+ di Indonesia jauh lebih sensitif dibandingkan di AS. Pendekatan door-to-door frontal mengenai topik ini berisiko tinggi memicu resistensi atau konflik horizontal.
  • Adaptasi Metode: Namun, inti dari metode deep canvassing—yaitu Tabayyun (klarifikasi) dan dialog dari hati ke hati—sangat relevan. Di era digital Indonesia di mana prasangka sering disebar via media sosial (holigalisme netizen), temuan Broockman & Kalla menyarankan bahwa “perang komentar” tidak akan efektif. Yang efektif adalah dialog personal yang memanusiakan “lawan”, mungkin melalui podcast yang mendalam atau forum komunitas kecil, bukan debat terbuka.

5. Kesimpulan dan Implikasi

Studi Broockman & Kalla (2016) adalah tonggak penting yang membantah pesimisme mengenai intervensi prasangka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prasangka dapat dikurangi secara tahan lama, bukan dengan membombardir orang dengan fakta atau statistik, melainkan dengan mengajak mereka melakukan refleksi diri dan pengambilan perspektif analogis.

Implikasi untuk masa depan: Penelitian selanjutnya harus fokus pada replikasi metode ini di konteks non-Barat (termasuk Indonesia) dan menguji apakah metode ini efektif untuk jenis prasangka lain yang mengakar kuat, seperti prasangka etnis atau agama. Selain itu, transisi metode ini ke ranah digital (misalnya: deep canvassing via video call atau chatbot empatik) adalah frontier baru yang patut diteliti.

Related Post

Leave a Comment